Tampilkan postingan dengan label AbangMujib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AbangMujib. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 September 2013

Tips Memilih Parkit Dalam Kandang Ombyokan

Burung parkit saat ini memang mulai naik daun di Indonesia, meski sebenarnya sudah lama menjadi burung popular di mancanegara, khususnya Eropa, Amerika, dan Australia. Sebagian kicaumania kita menggunakan parkit sebagai burung master, dan sebagian penggemar lainnya memeliharanya sebagai burung hias, termasuk sebagai teman bermain di rumah. Nah, ada beberapa sobat kicaumania yang minta tips cara memilih parkit yang dijual dalam kandang ombyokan. Artikel kali ini sekaligus merupakan jawabannya.
Di beberapa pasar burung, biasanya kita melihat parkit dijual dalam jumlah banyak dalam kandang ombyokan. Untuk memilih burung mana yang bakal dibeli, tentu dibutuhkan kejelian dan sedikit pengetahuan agar parkit yang didapatkan lebih mudah dirawat. Selain itu, burung tersebut akan selalu dalam kondisi lincah dan sehat selama dalam perawatan kita.
                                    Parkit dalam kandang ombyokan (Foto: tokobagus).

Berikut beberapa tips memilih burung parkit dalam kandang ombyokan agar bisa mendapatkan burung yang sehat, aktif, dan lincah, serta lebih mudah jinak dan cepat berbunyi.

1. Memilih jantan dan betina

Pada umumnya, parkit yang dijual dalam kandang ombyokan di pasar burung merupakan hasil breeding, dan umurnya rata-rata dibawah 4 bulan. Burung parkit pada umur tersebut memiliki ciri khas pada bagian depan kepalanya masih terdapat garis-garis hitam, dengan mata yang masih bulat kehitaman.
Karena umurnya masih di bawah 4 bulan, maka tidak mudah membedakan parkir jantan dan betina. Selama ini, sexing parkit yang sudah dewasa bisa dilakukan melalui warna cere, yaitu bagian pangkal paruh atas yang  merupakan tempat lubang hidung (nares) berada.
Ketika burung sudah dewasa, warna cere pada parkit jantan dan betina terlihat berbeda. Tetapi pada parkit muda, warnanya sepintas terlihat sama, yaitu pink, sehingga perlu ketelitian dalam membedakannya. Karena itu, saat di pasar burung, sebaiknya perhatikan parkit dengan warna hidung seperti pada gambar di bawah ini. Jika perlu, burung ditangkap, kemudian amati warna cere dari jarak dekat agar tidak terjadi kesalahan saat memilihnya.

                                          Parkit muda jantan (kiri) dan betina.

Apa yang terlihat dari gambar di atas?
Sekali lagi, silakan diamati secara detail. Gambar sebelah kiri adalah parkit muda berkelamin jantan. Lihat warna cerenya, Meski sama-sama pink, tetapi warna pink pada parkit muda jantan lebih full dan lebih cerah daripada parkit muda betina. Pada parkit muda betina, warna pink di bagian cere sedikit bercampur dengan warna putih.

2. Berduaan belum tentu berpasangan

Ketika Anda melihat parkit dalam kandang ombyokan, barangkali ada beberapa burung yang terlihat selalu berduaan, seperti sudah berpasangan atau berjodoh. Ini belum tentu benar, atau bukan jaminan kalau parkit yang selalu berduaan atau bermesraan dengan burung di sebelahnya sudah berjodoh.
Jadi, jangan sampai terkecoh. Perlu diingat, parkit termasuk burung paruh bengkok, atau masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan lovebirdcockatiel atau palek, nuri, dan kakatua. Sebagian besar burung paruh bengkok punya kecenderungan seperti itu, di mana burung jantan sering terlihat bermesraan dengan sesama burung jantan. Begitu pula sebaliknya, burung betina terlihat sering berduaan dengan sesama burung betina.
Boleh jadi, ini karena mereka merupakan burung koloni dan memiliki hubungan sosial yang begitu tinggi. Apa yang kita lihat sebagai kemesraan sesama jenis, mungkin saja bagi mereka sebenarnya merupakan hal biasa, he.. he.. he..

3. Burung harus sehat dan lincah

Burung parkit yang akan dibeli haruslah sehat. Ini bisa dilihat dari gerakannya yang aktif atau lincah. Tengara burung sehat juga bisa dilihat dari kedua sayapnya yang mengapit rapat pada bagian sisi tubuhnya. Jika sayap terkulai, apalagi hampir menyentuh tanah, bisa dipastikan burung dalam kondisi tidak sehat.
Tengara lain dari burung sehat adalah bulu-bulu di seluruh tubuhnya tersusun rapat. Kalau Anda menjumpai parkit yang sering mengembangkan bulu-bulu tubuhnya, ini merupakan indikasi kesehatannya terganggu. Apalagi jika burung lebih sering terlihat di dasar sangkar, dan jarang naik ke tangkringan.
Anda juga bisa melihat kondisi bulu-bulu halus di sekitar daerah kloaka (vent). Jika mulus dan bersih, berarti burung dalam kondisi sehat. Jika bulu-bulu di sekitar kloaka terlihat banyak kotoran, kemungkinan besar ada gangguan penyakit yang dialami burung.
Burung yang sehat juga terlihat dari tatapan matanya yang tajam, bening, bersinar dan bulat. Hindari memilih burung dengan mata yang selalu berair, maupun tampak sayu atau selalu dipejamkan.
Kotoran (feces) juga bisa mencirikan apakah burung dalam kondisi sehat atau sakit. Kotoran burung yang sehat berupa gumpalan kecil yang padat. Sedangkan burung yang dalam kondisi kurang fit atau tidak sehat biasanya ditandai dengan kotoran yang tampak berair.
Parkit yang sehat tidak berarti harus makan terus. Sedangkan parkit yang dalam kondisi tidak sehat biasanya berada tidak jauh dari tempat makannya, karena mereka malas untuk bergerak.
Burung yang aktif memakan buah-buahan atau sayuran yang disuguhkan juga merupakan salah satu ciri dari burung yang sehat.

4. Jangan pilih burung yang cacat

Selain sehat, Anda juga harus memastikan burung tidak memiliki cacat tubuh, misalnya kakinya pengkor atau pincang, ada keretakan pada paruh atas dan / atau paruh bawah. Burung yang memiliki cacat tubuh jelas akan menghambat proses perawatan selanjutnya.

5. Untuk masteran, pilih parkit betina

Jika ingin memelihara parkit untuk dijadikan burung master, sebaiknya pilihlah yang berjenis kelamin betina. Mengapa?
Selain lebih cerewet, suara asli parkit betina lebih sering ditonjolkan daripada burung jantan yang cenderung menonjolkan kebolehannya dalam melagukan suara isiannya.

6. Pilihlah burung dengan mental bagus

Parkit dengan mental bagus akan memudahkan Anda dalam perawatan selanjutnya, termasuk menjinakkan burung ini, sehingga lebih mudah dilatih untuk melakukan berbagai gerakan atraktif.
Untuk mendeteksi mentalnya, Anda bisa mendekatkan tangan Anda ke kandang ombyokan. Jika ada parkit yang memperhatikan tangan Anda, dengan tatapan waspada, atau burung tampak lebih berani dan lebih galak daripada yang lainnya, berarti dia punya mental yang bagus. Maka, pilihlah dia !
Anda juga bisa mengujinya dengan cara memegangnya secara langsung. Jika saat dipegang burung meronta-ronta, apalagi sambil menggigiti tangan Anda, berarti burung memiliki mental yang bagus, sehat, dan cerdas.

Penanganan setelah membeli parkit

Setelah burung parkit Anda dapatkan, dengan berbagai tips cara memilihnya, lalu apa selanjutnya yang mesti dilakukan ?
Setiba di rumah, burung segera dimasukan ke sangkar harian, lalu digantung dulu di teras rumah untuk tujuan diangin-anginkan. Hal ini sekaligus untuk memberi kesempatan bagi burung agar beradaptasi dengan kondisi lingkungan di sekitar sangkarnya.
Dianjurkan untuk memberikan suplemen anti-stres, terutama akibat proses perpindahan dari kandang lama (ombyokan di pasar burung) ke kandang / sangkar baru di rumah Anda. Dalam hal ini, Anda bisa memberinya BirdFirstAid (BFA) yang dicampur dalam air minum.
Setelah beberapa jam, burung bisa dimandikan dan kembali diangin-anginkan, agar lebih beradaptasi lagi dan lebih mudah dilatih. Air minum tetap dicampur dengan BFA selama 4-7 hari berturut-turut. Ya, BFA menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam meningkatkan daya adaptasi burung baru.
JIka Anda memiliki kandang ternak terpisah, atau membeli burung untuk dirawat di dalam kandang aviary, maka setelah dianginkan burung bisa langsung dipindahkan ke kandang ternak atau kandang aviary. Adapun jika Anda ingin memeliharanya sebagai burung master, atau sekadar klangenan, maka burung tetap dipelihara dalam sangkar tersebut.
Berikan milet putih dengan tambahan sedikit sayuran atau buah-buahan. Sebab burung parkit yang dibeli dari pasar burung biasanya hanya diberi milet putih. Biarkan pakan lama ini tetap diberikan selama beberapa hari, Jika parkit sudah beradaptasi dengan lingkungan baru, atau sekitar 1 minggu kemudian, Anda bisa melatihnya dengan pakan lain seperti sayuran dan buah-buahan.
Semoga bermanfaat.

Sumber : www.omkicau.com

Panduan Dasar Beternak Burung Parkit



Beternak burung parkit bisa dijadikan mata pencaharian utama maupun sampingan. Untuk bisa menjalankan usaha ini, Anda mesti menguasai minimal dasar-dasar beternak burung parkit. Kesulitan yang kerap dialami peternak atau penangkar partkit antara lain proses perjodohan dan perkawinan, termasuk pemilihan calon induk.

Pemilihan Indukan

Calon induk yang mau dipasangkan sebaiknya sudah berusia 5 bulan atau lebih. Pada burung jantan, hal ini bisa dilihat dari bagian pangkal waruh di mana kedua lubang hidung (nostril) berada, yang terlihat berwarna biru tua mengkilat. Adapun pada burung betina terlihat berwarna keputihan. Ciri-ciri fisik lainnya bisa dilihat pada gambar di bawah ini yang menandakan bahwa burung sudah berusia dewasa dan siap untuk diternak.


Pemilihan indukan baik jantan ataupun betina masih bisa divariasikan dalam pemilihan warnanya, di mana banyak penangkar yang bereksperimen mengawinkan parkit dengan beragam corak dan warna agar bisa menghasilkan anakan yang memiliki warna bagus dan cerah.

Pemilihan Kandang

Apapun jenis kandang yang dipergunakan tidak menjadi soal, apakah mau di kandang soliter, kandang koloni, maupun kandang aviary. Yang penting suhu di dalam kandang selalu dalam kondisi hangat. Jika kandang berada di luar ruangan, Anda bisa memasang lampu UV untuk menghangatkan kondisi di dalam kandang.
Ukuran kandang tergantung dari jenis kandang yang digunakan, serta jumlah burung yang ada di dalamnya. Sebagai contoh, jika menggunakan kandang soliter, Anda bisa menggunakan kandang dengan ukuran 40 x 30 cm2 – tinggi 40 cm, untuk setiap pasangan. Ada yang membangun kandang koloni dengan ukuran 60 x 50 cm2  – tinggi 60 cm, untuk 4 pasangan.


BERBAGAI JENIS KANDANG UNTUK TERNAK PARKIT

Makanan yang dibutuhkan

Makanan utama parkit adalah biji-bijian, dalam hal ini milet putih dan jagung muda. Berikan juga makanan tambahan berupa sayuran hijau seperti kangkung dan tauge. Sediakan tumbukan batu bata merah ataupun pasir untuk membantu pencernaannya, sekaligus mencukupi kebutuhan mineralnya.
Tentu batu bata sudah dicuci dan dikeringkan agar steril, kemudian ditumbuk. Demikian juga pasir, perlu dicuci dan dikeringkan, lalu disaring supaya lebih halus. Disarankan menaburkan multimineral berkualitas seperti BirdMineral pada tumbukan batu bata / pasir.
Untuk melihat manfaat mineral pada burung, silakan cek artikel di sini. Air minum tetap harus disediakan meski dalam jumlah tidak terlalu banyak, karena sebagian kebutuhan air tercukupi dari buah-buahan dan sayuran terutama kangkung dan tauge.
Untuk meningkatkan kesuburan telur, daya tetas, dan kualitas piyikan yang menetas, kedua indukan (baik jantan maupun betina) perlu mendapat asupan bergizi, terutama yang nutrisi yang berkaitan dengan aspek reproduksi (protein, vitamin E dan vitamin K). Untuk memastikan kecukupan nutrisi esesianl tersebut, Anda bisa menggunakan BirdMature, suplemen khusus untuk burung penangkaran, yang bisa dikonsumsi induk jantan maupun betina.

Aneka Model Glodok

Jangan lupa untuk memasukan beberapa glodok untuk tempat bertelurnya, sesuai dengan jumlah pasangan yang berada dalam kandang penangkaran tersebut. Untuk ukuran, bahan dan bentuknya ada banyak ragam. Jadi silakan memilih yang kira-kira sesuai dengan keinginan Anda.


ANEKA MODEL GLODOK UNTUK PARKIT

Jika semua kebutuhan sudah disiapkan, dan induk sudah dimasukkan ke kandang penangkaran, tugas kita selanjutnya adalah menunggu mereka bertelur, namun tetap memantau perkembangan dan mengganti air minum dan pakan segar setiap harinya.
Untuk kandang soliter, di mana satu kandang hanya berisi 1 pasangan saja, terkadang muncul problem burung susah sekali berjodoh. Untuk mengatasinya, pisahkan dulu induk jantan dan pindahkan ke sangkar / kandang lain, sambil diterapi dengan TestoBird yang akan meningkatkan birahinya.
Adapun betina tetap di kandang penangkaran, dan diterapi dengan Estrobird yang juga akan membuatnya tak menolak lagi saat dikawini burung jantan. Dekatkan sangkar jantan ke kandang betina, selama 1-2 hari. Setelah tanda-tanda birahi makin terlihat, masukkan kembali parkit jantan ke kandang betina.
Jika sudah bertelur, biasanya induk jantan dan betina akan bergantian mengerami terlurnya, dan setelah 15 hari telur akan menetas. Pada masa-masa itulah burung jantan akan memberi makanan kepada bininya, lalu burung betina memberikan makanan dalam bentuk lolohan kepada anak-anaknya hingga berumur 3 minggu.
Setelah itu, burung jantanlah yang bertugas memberi makan anak-anaknya hingga bulu-bulunya makin rapi, atau ketika anakan sudah berumur 5-6 minggu.
Tips:
Jika ingin membuat jinak anak parkit, bahkan bisa dilatih berbagai atraksi , Anda bisa mengambil mereka lalu mengajaknya bermain selama 10 menit tiap hari. Anak parkit minimal sudah berusia 2 mingguan.
Apabila anakan parkit sudah mulai keluar dari sarang dan bisa mencari makan sendiri, maka mereka bisa dipisahkan dari induknya untuk dimasukan dalam kandang terpisah. Atau, bisa juga dijual ke pelanggan Anda.
Semoga bermanfaat.

Sumber : www.omkicau.com